Sejarah Desaku

DESA SUKARAMI AJI (1619M)

MARGA HAJI (5-6SM)

A. Sejarah Desa Sukarami Aji (1619M)

Cikal bakal adanya Desa Sukarami Aji itu dimulai ± pada tahun 1619M karena telah berberdiam/bermukim disana Puyang Ratu Manggilan dengan julukan “Kaya Dama”.

Dari perang pematang jering, perang bilah-bilah pada tahun 1860 sd 1875, yang berakhir sampai pauh pada saat itu desa sukarami (sekarang) sudah ada jauh sebelumnya.

menurut cerita Sang Hyang Rakian Sakti berasal dari bumbungan matahari atau keharibaan tuhan yang maha esa turun kedunia dengan nama santhy sakti atau naga sakti.

tempat-tempat kemunculan beliau:

Balik Papan (Kalimantan), Mataram (Jawa), Haji Banton (Banton/Banten), Pagar Uyung (Sumatera), Haji Skala Berak, Tanjung Haji Pepahan Negara (Sukarami Aji).

Nama-Nama Istri Beliau :

Istri Pertama bernama Rebiah Sunting Sakti di bumbungan Matahari, mempunyai anak bernama “Sang Hyang Hujan Terima Sakti” dari sinilah keturunan atau cikal bakal desa Sukarami Aji sekarang ini.

setelah kebumi beliau memiliki isteri kedua

Istri Kedua Beliau bernama Puteri Bidadari Angsa Ratu Pesagi, mempunyai anak:

Sang Hyang Senjaya, Sang Hyang Syura, Sang Hyang Banguk Bujor, Puteri Pandan, Puteri Salik Idoran, Patih Swatang.

Sejarah desa sukarami aji, sebelum bernama desa sukarami aji .terlebih dahulu bernama dusun baran-baran (burung). Atau kalau dimongolia disebut bar-bar(kuat), atau sekumpulan pasukan yang terus melakukan penyerangan sehingga hampir tidak menetap disuatu tempat. Sukarami (sekarang) termasuk desa terbesar kedua dipusat haji, setelah desa kuripan. Karena desa tersebut merupakan gabungan dari Baran-Baran, Manggilan, dan Kota Marga (marga haji).

Dusun Baran-Baran didirikan oleh:

Nama Pendiri

  1. Puyang Mastulin Taha,
  2. Puyang Dasar Batin Taha,
  3. Puyang Agung Raya Taha,
  4. Puyang Ria Motor Taha,
  5. Puyang H.Ahmad Taha ( Rumah Kiambang ),
  6. Rumah Mutor sedahurinya nulung.

“Keterangan Dari Puyang Najib Munti Raya Rumah Balak Tahun (1955M)”

Dusun Kota Marga (marga haji)dan Susuk’an(Bebok):

Oleh Klan/Kelompok Riya Perang. (Sumber: Kak Indra Syafri)

Daerah Manggilan:

Sekarang hanya jadi persawahan desa… kalau dulu menurut cerita nenek (Dangau Darat), Manggilan juga ramai seperti dusun, karena banyak yang tinggal di Manggilan.

B. Tempat-tempat yang berada di wilayah Sukarami Aji:

Nama Daerahnya

  1. Pematang Jering
  2. Petala Gantung
  3. Bilah-Bilah
  4. Manggilan
  5. Garam-garam
  6. Tebing retas (tebing tas)
  7. Atar Bulan
  8. Umbul Keka’
  9. Bebok dan Tebat Bai
  10. Kota Marga
  11. Umbul Wong
  12. Umbul Serai
  13. Umbul Limus
  14. Tanah Genting
  15. Madungan Hulu dan Hilir
  16. Mentama
  17. Ngelebongan
  18. Munggu
  19. Pemandian Puyang Syurah
  20. Tanah Limunan

C. Perbatasan Desa Sukarami Aji :

Desa ini berada pada perbukitan yang di sekelilingnya ada sungai kecil yaitu way Sentring dan Way Kedamaian yang

mengalir keSungai Selabung. dengan titik pusat berada pada pusat ibadah yaitu Masjid NURUL TAQWA, masjid beratapwarna biru, maka disimpulkan arah perbatasan dengan desa lainnya.

Nama Desa                                                   Perbatasan

  1. Sukaraja Banjar (daya)                    Sebelah Selatan & Barat Daya
  2. Tanjung Raya      (Aji)                      Sebelah Utara
  3. Mendura               (daya)                   Sebelah Timur
  4. Kuripan                 (Aji)                       Sebelah Barat

D. Adat Marga Haji:

Gelar Atau Julukan yang tertinggi diwilayah marga haji, khususnya didesa sukarami aji

  1. Dalom
  2. Raden, dst.

E. Adat Perdesaan Sukarami Aji:

Di Desa Sukarami Aji terdapat kafilah atau sekampungan, yang saling menjaga adat istiadat perdesaan maupun sekampungan. Saling tolong menolong antar sesama dalam hal perkawinan atau persedekahan biasa, serta bermufakat dalam hal adat marga haji untuk pemberian gelar atau adok.

Dikisahkan Sang Hyang Hujan Terima Sakti mempunyai istri bernama Ratu Intan. dari anak-anak beliau inilah sukarami memiliki klan/sekampungan.

Puyang Pangeran Sang Aji Menang, cikal bakal kampung Ratu dan kampung Gedung.

Puyang Ki Dalom, cikal bakal kampung Tengah.

Puyang Ki Alam, cikal bakal kampung Darat.

Puyang Mas Pulang Jiwa, cikal bakal kampung Negeri/ Geri.

Puyang Sang Aji Sangun Raja, cikal bakal kampung Darat dan Kampung Hulu.

Puyang Raja Semula Gusti, cikal bakal kampung Batin.

Puyang Temenggung Kuncet Besi (menetap dan meninggal diLampung), cikal bakal kampung Natazaman/ Natar Zaman.

Sekampungan

  1. Kampung Gedung
  2. Kampung Ratu
  3. Kampung Negeri (geri)
  4. Kampung Natazaman
  5. Kampung Hulu
  6. Kampung Darat
  7. Kampung Bathin
  8. Kampung Tengah

F. Pemerintahan Marga Haji Dan Desa Sukarami Aji:

  1. Zaman Kerajaan Haji (Zaman Puyang) seluruh suku haji atau sekarang disebut marga haji bersatu dalam sebuah kerajaan.
  2. Desa sukarami pernah dipimpin oleh seorang Riya (pemimpin era kepesirahan marga haji)
  3. Sekarang desa Sukarami Aji dipimpin oleh seorang kepala desa (kades), ini untuk mengurus dan mengemban amanat masyarakat untuk menjadi bagian dari kesatuan NKRI. Sehingga tugas kepala desa disini sebagai wakil desa untuk keperluan luar dari kepentingan desa, atau bertugas sebagai jembatan kepada pemerintahan daerah. Desa Sukarami Aji terletak diKecamatan Buay Sandang Aji Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan. Dalam hal ini wilayah pusat marga haji berada pada dua kecamatan yaitu kecamatan Buay Sandang Aji dan kecamatan Tiga Dihaji.

Desa sukarami terbagi atas lima dusun yang masing-masing dikepalai oleh kepala dusun (Kadus)

  1. Dusun Satu bagian Selatan dan Barat Daya Desa
  2. Dusun Dua bagian Barat Desa
  3. Dusun Tiga bagian Tenggara dan Timur Desa
  4. Dusun Empat bagian Timur Laut dan Barat Laut Desa
  5. Dusun Lima bagian Utara Desa

G. Bahasa Keseharian Desa Sukarami Aji :

Bahasa marga haji (basa haji) adalah raja basa (Sang Aji Malihi) atau basa pemersatu nusantara .

“Hakekat Bahasa Haji menurut Sang Hyang Rakian Sakti adalah bahasa yang terbanyak dikuasai rakyat yang berarti semua bahasa itu bila berbaur melalui dialog antar suku bisa timbul suatu bahasa tunggal sebagai bahasa persatuan”.

Bahasa keseharian desa sukarami aji adalah bahasa marga haji (basa haji) kombinasi, dikarenakan bahasa haji luar dengan bahasa haji dalam agak sedikit berbeda dalam hal kata-kata. Marga Haji luar terdiri dari Sukarami Aji, Tanjung Raya, Peninggiran. Sedang Marga Haji dalam terdiri dari Kuripan Aji, Surabaya, Sukarna, Karang Pendeta, Kota Agung, Sukabumi/Pauh. Misalkan

Bahasa halus Marga Haji dalam:

Kamujan/kenjan

Ruguh-Ruguh

Teriaknya

Bahasa Kombinasi Marga Haji luar:

Ijan

Ruguk

Kabarnya/ cawanya

H. Sumber Pendapatan Desa Sukarami Aji:

Marga Haji umumnya dan sukarami pada khususnya memiliki sumber pendapatan dari pertanian, perkebunan kopi, perkebunan lada, dan hasil bersawah. Marga haji itu sebagian besar masyarakatnya adalah petani pribadi, mengolah tanah warisan leluhurnya.

I. Penutup:

Demikianlah sejarah dan pengenalan  sebuah desa marga haji yang bernama Sukarami Aji. Letak keberadaan dalam wilayah pusat marga haji yaitu pada ±15KM dari kota muaradua ibukota kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan.serta 4KM dari ibukota kecamatan buay sandang Aji, desa sukarami juga merupakan sebuah desa terpenting dalam sejarah suku haji dikarena kan desa sukarami dan kuripan aji lah yang memelihara barang pusaka Sang Hyang Rakian Sakti. Untuk itu bagi saudara-saudara yang ingin mengetahui lebih lanjut tentang desa Sukarami Aji maka sebaiknya berkunjung langsung saja. Datang lah kewilayah haji, Marga haji, Aji Sakti. Apabila dari Muaradua maka, Wilayah pertama marga haji adalah desa Sukarami Aji, akhir kata saya menutup penjelasan tentang Sukarami Aji, Marga Haji/ Aji Sakti. Salam kekeluargaan persaudaraan buat semua suku aji, marga haji dimana pun berada.

Catatan:

  1. Marga Haji (Pusat) ini terletak disepanjang Aliran Sungai SELABUNG, sebuah sungai yang mengalir dari Danau Ranau Provinsi Sumatra Selatan,
  2. Suku Haji tesebar di provinsi Lampung, Sumatera Selatan, dan Bengkulu.
  3. Suku Haji dijuluki Raja Adat, Raja Hukum, Raja Basa “Pangeran Sang Aji Malihi adalah raja saka aji sai (marga haji) yang mengadakan pepadun tentang bahasa dan adat dengan keempat buay dari lampung, bengkulu, dan jambi yang menjadi kekuasaanya”.
  4. Suku Haji/ Aji Sai/ Haji Sakti (Sang Naga Sakti/ Sang Rakian Sakti).
  5. Perkumpulan Facebookers Aji Sai/Aji Saka Sai adalah CAHAYA KITA MARGA HAJI

Yogyakarta, 04 Januari 2010

ttd

Aditya Penatazaman

Iklan

hari ibu

berkat ibu aku bisa menatap alam dunia…
oleh ibu aku diajarkan kasih sayang…

ibu..kasih sayangmu suci serta abadi…

bila pujangga mengatakan cinta itu suci,
itu adalah cinta tuhan dan ibu kepadaku…..
cinta yg murni, tulus, serta suci.
sesuci embun dikala pagi…..
yg belum tersentuh apapun….
karna kesuciannya empun itupun….
dapat memantulkan cahaya mentari….

sinaran kasih sayang ibu ibarat mentari disiangnya hari,
dan laksana rembulan dikala malam menjelang….

(aditya khenzo)

Pungguk yang malang

Yogyakarta,24 Maret 2009
By, Aditya Khenzo UAD Yogyakarta
 
Dikala malam dipenuhi harapan-harapan…
Dikala itu gelap datang menghadang….
Apalah arti tatkala seuguk pungguk berharap,
Mengharapkan dewi rembulan….muncul,
Muncul dengan sinarnya yang terang….
Dibalik dedaunan dan diatas ranting yang rapuh,
Pungguk terus berharap kedatangan cahaya…..
Cahaya …..yang dapat menemaninya,,,,
Dibalik gelapnya, kehidupan malam…yang gulita
Aduhai…..pungguk dikau binatang yang malang,
Engkau…berharap dan terus berharap….
Namun…… apa yang diharapkan…..
Dewi rembulan tak kunjung datang….
Ai….sudahlah kawan….!
Waktu dan jarak telah iri pada kita,,,
Sehingga apa yang diharapkan,
Dan apa yang kita ingikan tak kunjung tercapai…
Akankah terang datang dibalik gulitanya malam……….
Atau akan gelap gulita sepanjang malam….?
Akankah datang kesetiaan dan kebersamaannya…
Yang tak terhalang waktu dan jarak yang menghadang…?

sejarah kita

Oleh Rahman Effendi Martabaya Glr Raden Batin Aji, Peneliti dan Pemerhati Sejarah Budaya dan Aksara Kaganga Indonesia

Kepulauan Sumatera pernah didatangi bangsa Yunan dari daratan Indo-Cina pada abad Sebelum Masehi. Bangsa ini sebelum datang secara besar-besaran, mereka masuk Nusantara dengan kelompok-kelompok kecil.
Mereka membawa berbagai kebudayaan antara lain falsafah/ajaran Buddha dan aksara/tulisan kaganga. Khusus di Lampung sekarang dikenal dengan tulisan Lampung karena pada zaman modern ini Lampunglah yang lebih dulu mengangkat aksara kaganga tersebut. Adapun daerah Lampung dahulu merupakan kesatuan dengan daerah pusat Kerajaan Saka di sebelah selatan Bukit Barisan dalam wilayah Sumatera bagian selatan, yaitu Kerajaan Aji Sai dekat Danau Ranau, Lampung Barat sekarang. Di Sumatera bagian selatan, khususnya di Sumatera Selatan, aksara kaganga dikenal dengan nama tulisan ulu dalam wilayah pedalaman Batanghari Sembilan di Jambi, dikenal dengan nama tulisan encong, di Aceh dengan tulisan rencong, di Sumatera Utara/Batak dengan tulisan pustaha/tapanuli.
Di wilayah kepulauan nusantara ini yang memakai tulisan kaganga hanya di Pulau Sumatera dan Sulawesi (ada 22 wilayah) dan di luar wilayah tersebut memakai tulisan/aksara pallawa/hanacaraka yang berasal dari India sesudah masuk abad Masehi bersama dengan ajaran/falsafah Hindu, yang kemudian hari berkembang di Pulau Nusa Kendeng/Pulau Jawa sekarang dan Bali. Di pusat Kerajaan Saka/Aji Sai, raja-rajanya adalah titisan penjelmaan Naga Sakti/Nabi Khaidir a.s., dalam rangka mengemban tugas Tuhan Yang Maha Esa dengan menurunkan hukum inti Ketuhanan (falsafah Jaya Sempurna) sepanjang zaman. Jadi masuknya bangsa Yunan terjadi beberapa tahap yang jaraknya berabad-abad serta membaur dengan penduduk asli Nusantara (yaitu Kerajaan Saka/Aji Sai) yang merupakan cikal bakal Kerajaan Sriwijaya kecil di wilayah pedalaman Bukit Barisan sebelah barat, yaitu Bukit Raja Mahendra (Raje Bendare). Di Pagar Alam Lahat, tepatnya di antara perbatasan 3 provinsi; Lampung, Sumatera Selatan dan Bengkulu lokasi tersebut sampai saat ini belum terungkap dan masih merupakan misteri bagi bangsa Indonesia. Untuk mengungkapnya perlu dipelajari tulisannya, yaitu kaganga atau pallawa (hanacaraka).
Asal Nama Sumatera
Dalam catatan sejarah yang ada hingga saat ini, Pulau Sumatera ini ditemukan Angkatan Laut Kerajaan Rau (Rao) di India yang bernama Sri Nuruddin Arya Passatan tahun 10 Saka/88 Masehi yang tercantum dalam Surat Peninggalan pada Bilah Bambu tahun 50 Saka/128 M yang ditandatangani Ariya Saka Sepadi, bukan Sri Nuruddin Angkatan Pertama yang datang dari Kerajaan Rao di India.
Karena tidak ada kabar beritanya angkatan pertama, dikirim angkatan kedua yang dipimpin langsung Putra Mahkota Kerajaan Rao di India Y.M. Sri Mapuli Dewa Atung Bungsu tahun 101 Saka/179 Masehi. Dengan 7 armada (kapal), mereka berlabuh di daratan Sumatera tepatnya di Pulau Seguntang atau Bukit Seguntang sekarang di Palembang, Y.M. Sri Mapuli Atung Bungsu memerintahkan Arya Tabing, nakhoda kepal penjalang untuk mendirikan pondokan dan menera (menimbang) semua sungai yang berada di wilayah Pulau Seguntang tersebut. Demi mengikuti amanat Ayahanda Kerajaan Rao di India, berganti-ganti air sungai ditera (ditimbang) Arya Tabing atas titah Y.M. Sri Mapuli Dewa Atung Bungsu, sebelum Arya Tabing menimbang semua air sungai, beliau bertanya kepada YM, sungai mana yang harus ditera (ditimbang), dijawab YM, semua Tera (yang maksudnya semua air sungai yang ada ditimbang). Dari kata-kata beliau itulah asal nama Sumatera hingga saat ini yang tercatat dalam surat lempengan emas tahun 10 Saka/88 Masehi serta surat dari bilah bambu pada tahun 101 Saka/179 Masehi yang sampai saat ini belum ditemukan bangsa Indonesia, dan berkemungkinan sekali bertuliskan/aksara kaganga atau pallawa/hanacaraka di wilayah Sumetera bagian selatan. Setelah ditimbang angkatan Arya Tabing, didapatlah air sungai/Ayik Besemah dari dataran tinggi Bukitraja Mahendra Mahendra (Bukit Raje Bendare) mengalir ke barat dan bermuara di Sungai Lematang wilayah Kota Pagar Alam (Lahat).
Sejarah Adat
Adat pepadun sai batin terbentuk pada abad ke-17 tahun 1648 M oleh empat kelompok/buay, yaitu Buay Unyai di Sungai Abung, Buay Unyi di Gunungsugih, Buay Uban di Sungai Batanghari dan Buay Ubin (Subing) di Sungai Terbanggi, Labuhan Maringgai. Adat pepadun sai batin ini masih ada pengaruh dari Hindu dan Buddha dan diadakan atau dibentuk di Goa Abung (Kubu Tanah) di dekat perbatasan Buay Ubin (Subing) Kota Batu, Ranau sekarang. Di sana ada lima buah kursi dari batu tempat sidang adat tersebut. Adat pepadun sai batin dibentuk atas prakarsa dari Raja Saka (Aji Sai) yang bernama/bergelar Pangeran Sang Aji Malihi yang pada waktu itu daerah pedalaman Lampung dalam wilayah kekuasaannya. Suatu saat sidang akan dilaksanakan Pangeran Sangaji Malihi terlambat datang karena beliau lebih dulu menjemput adik angkatnya yang bernama Putri Bulan (Anak Bajau Sakti/Raja Jungut) dikenali Bukit Pesagi untuk diajak menghadiri pembentukan sidang adat tersebut. Saat sidang akan dimulai Putri Bulan bertanya kepada Sangaji Malihi sidang apakah ini? Putri Bulan tidak dikenal keempat peserta sidang (empat buay) yang merupakan utusan kelompok masing-masing wilayah. Sangaji Mailahi menjawab akan membentuk adat.
Keempat bersaudara dari 4 buay tersebut merasa sangat tertarik melihat Putri Bulan adik angkatnya Sangaji Malihi dari Pesagi tersebut, sehingga rapat/sidang ditunda sejenak karena terjadi keributan di antara mereka. Untuk mengatasi keributan itu, Sangaji Malihi memutuskan Putri Bulan dijadikan adik angkat dari mereka berempat. Setelah meninggalkan daerah Goa Abung, mereka menyebarkan adat ke daerah pedalaman Lampung sekarang. Buay Unyai pada puluhan tahun kemudian hanya mengetahui sidang adat pepadun sai batin diadakan di daerah Buay Unyai dan sebagai Raja Adat, Raja Hukum, Raja Basa (Bahasa) adalah Sangaji Malihi yang kemudian hari dijuluki masyarakat sebagai Ratu Adil. Buay Bulan (Mega Pak Tulangbawang) pada permulaan abad ke-17 Putri Bulan bersuamikan Minak Sangaji dari Bugis yang julukannya diambil dari kakak angkatnya Sangaji Malihi (Ratu Adil).
Empu Riyo adalah keturunan Buay Bulan di Buay Aji Tulangbawang Tengah dan Makam Minak Sangaji dan Putri Bulan ada di belakang Kecamatan Tulangbawang Tengah dan Makam Minak Sangaji dan Putri Bulan di Buay Aji Tulangbawang Menggala (sekarang). Di antara keturunan Raja Jungut/Kenali Pesagi keturunan Buay Bulan ada di Kayu Agung, keturunan Abung Bunga Mayang dari Mokudum Mutor marga Abung Barat sekarang.
Daerah lima Kebuayan dan buay-buay lainnya di Lampung sekarang, kecuali Lampung Selatan dan Bengkulu sebelah utara bertakluk kepada Raja Aji Sai tahun 1640 (Pangeran Sangaji Malihi). Menak Masselem dari Buay Unyai Putra Menak Paduka Bageduh (Ratu Gajah) yang bergabung Banten tahun 1680 karena terjadi perselisihan antara anak cucu Menak Paduka Bageduh. Jadi adat pepadun sai batin merupakan satu kesatuan (two in one) yang tidak terpisahkan satu sama lainnya karena arti/makna dari pada kata atau kalimat pepadun sai batin adalah pepadun = musyawarah/mufakat, dan sai batin = bersatu/bersama. Jadi kata pepadun sai batin adalah musyawarah mufakat untuk bersama bersatu dalam rangka sidang adat tahun 1648 di Goa Abung (Kubu Tanah) Kota Batu Ranau dekat perbatasan Buay Ubin, Lampung Barat sekarang.
Pembentukan adat tersebut diprakarsai Sangaji Malihi yang bergelar Ratu Adil yang oleh masyarakat saat itu sebagai Raja Adat, Raja Hukum dan Raja Basa.
Dan kemudian hari sejarah adat pepadun sai batin terbagi menjadi 2 kelompok/jurai, yaitu Lampung sai = pepadun dan aji sai = sai batin, yang kemudian kita kenal sebagai lambang Sang Bumi Ruwa Jurai (pepadun sai batin). Fakta/bukti autentik piagam logam tahun 1652 Saka/1115 H atau tahun 1703 M yang bertuliskan Arab gundul dan aksara pallawa/hanacaraka ada pada penulis sebagai salah satu keturunan Sangaji Malihi. Jadi adat pepadun sai batin itu berarti musyawarah mufakat untuk bersatu/bersama dalam pembentukan Adat.
Dalam waktu dekat ini anggota Tim Pakar Aksara Kaganga Indonesia dari Sumatera bagian Selatan akan melaksanakan Lokakarya Aksara Kaganga Indonesia di Bandar Lampung sebagai tuan rumah penyelenggaraan kegiatan tersebut karena Provinsi Lampung-lah yang mengangkat aksara kagama selam Indonesia merdeka.
Tujuan kegiatan tersebut untuk segera mengangkat sejarah leluhur tempo dulu dengan memasyarakatkan membaca tulisan aksara kaganga yang ada di Sumatera dan Sulawesi.
Keterangan/Kata Rani Siji:
Pepadun = Musyawarah/mufakat
Sai batin = Bersatu/bersama
Lampung sai = Kita bersatu/mereka bersatu
Aji sai = Saya satu/ini satu
Sang Bumi Ruwa Jurai = pepadun saibatin (satu kalimat) musyawarah untuk bersatu
Alamat Penulis: Jalan Cut Nyak Dien Gang Hamid No. 30 Bandar Lampung 35116
Sumber : Lampung Post 16 Juli 2004 (versi Lampung post)

dan dari

AHMAD GROZALI Mengkerin, penulis angkatan Balai Pustaka, dengan karya tulisnya yang terkenal Syair Si Pahit Lidah, mempunyai pendapat lain tentang sejarah Sriwijaya. Pendapatnya itu tertuang dalam satu manuskrip yang disimpan oleh keluarga orang yang disapanya dengan sapaan “paman” di Palembang. Dokumentasi pribadi paman Abdullah Senibar itu patut dijadikan bahan kajian tentang sejarah Sriwijaya atau sejarah lokal Sumsel. Judul manuskrip yang ditulis oleh penulis Balai Pustaka itu adalah “Ringkasan Sedjarah Seriwidjaja Pasemah”.Ahmad Grozali, penulis Syair Si Pahit Lidah, yang sebagai jurnalis pernah menulis artikel “Gara-gara Berdialog” itu, mengemukakan pendapatnya tentang Sriwijaya sebagai berikut.

Pada tahun 101 Syaka (bertepatan dengan tahun 179 Masehi), berlabuhlah tujuh bahtera (jung) di Pulau Seguntang. Pulau Seguntang iu adalah Bukit Seguntang yang sekarang, yaitu bukit dengan ketinggian 27 meter di atas permukaan laut, di dalam Kota Palembang.Pada masa itu, yaitu sekitar abad kedua Masehi, daerah Sumatera Selatan ini masih merupakan bencah lebar atau rawa-rawa yang sangat luas. Hanya ada beberapa daratan yang tampak seperti terapung di atas permukaan laut. Di antara daratan yang muncul di atas permukaan laut itu adalah (1) Bukit Seguntang, sebagai apung pertama; (2) Kute Abung Bukit Serela, sebagai apung tengah; dan (3) Daratan Tinggi Tanah Besemah dengan puncaknya Gunung Dempu, sebagai apung kulon (apung barat).Kute Abung Bukit Serela adalah Bukit Serela di Kabupaten Lahat, yang sekarang dikenal juga dengan nama Bukit Jempol. Di situ pernah ditemukan jangkar jung kuno yang berasal dari awal abad Masehi. Daerah itu dikenal juga dengan sebutan Abung Tinggi. Bukit Serela atau Bukit Jempol itu tingginya 670 meter di atas permukaan laut.

Dataran Tinggi Tanah Besemah dengan puncaknya Gunung Dempu itu adalah wilayah Kota Pagaralam dan Kabupaten Lahat dengan gunung tertinggi di Sumatera Selatan, yang kini dikenal dengan Gunung Dempo. Gunung Dempu (Dempo) itu sebenarnya mempunyai tiga puncak, yaitu

(1) puncak belumut (Gunung Lumut),
(2) puncak beghapi (Gunung Berapi), dan
(3) puncak dempu (Gunung Dempu).

Puncak yang tertinggi adalah puncak Dempu (Gunung Dempu), 3.173 meter di atas permukaan laut.Putra MahkotaAdapun Angkatan Bahtera (Armada Jung) yang berlabuh di Pulau Seguntang pada tahun 101 Syaka atau 179 Masehi itu, dipimpin oleh Yang Mulia Seri Mapuli Dewa Atung Bungsu, putra mahkota Kerajaan Rau (Rao) di India. Sebagai penasihat Yang Mulia Seri Mapuli Dewa Atung Bungsu adalah Ariya Tabing dari Kepulauan Massava (Filipina) dan Umayullah dari Parsi Persia (Iran).Perjalanan Angkatan Bahtera Yang Mulia Seri Mapuli Dewa Atung Bungsu tahun 101 Syaka (179 Masehi) itu adalah perjalanan kedua yang dilakukan oleh Angkatan Bahtera Kerajaan Rau (Rao) untuk menyelidiki pulau-pulau di Nusantara, yaitu pulau-pulau di tenggara benua Asia. Perjalanan pertama berlangsung sebelum tahun 10 Syaka atau tahun 80-an Masehi. Angkatan Bahtera Kerajaan Rau (Rao) yang berangkat ke Nusantara sebelum tahun 10 Syaka itu dipimpin oleh Seri Nuruddin yang berasal dari Kepulauan Massava (Filipina), yang pada waktu itu menjabat sebagai Ariya Passatan (Panglima Angkatan Laut) Kerajaan Rau (Rao).Angkatan Seri Nuruddin telah berpuluh-puluh tahun tidak kembali ke Kerajaan Rau (Rao) di India, bahkan tidak ada kabar sama sekali. Oleh sebab itu maka dikirim angkatan kedua, angkatan susulan, yang dipimpin langsung oleh yang Mulia Seri Mapuli Dewa Atung Bungsu. Mereka mengharung samudera, menuju ke pulau-pulau Nusantara.Pada hari Jumat, hari ke-14, bulan Haji (bulan Zulhijjah), tahun 101 Syaka, bertepatan dengan tahun 179 Masehi, mendaratlah Yang Mulia Seri Mapuli Dewa Atung Bungsu yang memimpin Angkatan Tujuh Bahtera itu di daratan, di dekat pohon cendana, di Pulau Seguntang atau Bukit Seguntang.

Di situ beliau Yang Mulia menemukan satu bumbung (berumbung) atau tabung yang berisi lempengan emas bersurat. Lempengan emas bersurat dalam bumbung yang ditemukan oleh Yang Mulia Seri Mapuli Dewa Atung Bungsu itu, ternyata adalah surat atau warkah yang ditandatangani oleh Seri Nuruddin, Ariya Passetan (Panglima Angkatan Laut) Kerajaan Rau (Rao), bertanggal hari kesebelas, bulan ketujuh (bulan Rajab), tahun 10 Syaka, bertepatan dengan tahun 88 Masehi.

SuratInilah isi surat atau warkah emas yang ditulis dan ditandatangani oleh Seri Nuruddin, yang ditemukan oleh Yang Mulia Seri Mapuli Dewa Atung Bungsu di bawah pohon cendana, di Bukit Seguntang itu.“Kami tak dapat lagi pulang ke India karena segala alat perlengkapan kami telah rusak binasa. Tetapi kami telah menemukan beberapa pulau, di antaranya ada yang kami namakan Tanah Jawa karena di dalamnya (di pulau itu) banyak kami mendapat buah jawa, yang kami makan dan dijadikan bubur.Barangsiapa mendapatkan barang ini (surat ini) hendaklah menyampaikannya ke hadirat Yang Diperlukan Kerajaan Rau (Rao) di India”.Demikianlah isi surat pertama yang ditemukan oleh Yang Mulia Seri Mapuli Dewa Atung Bungsu di Bukit Seguntang. Setelah penemuan surat pertama itu,

Yang Mulia Seri Mapuli Dewa Atung Bungsu menemukan surat yang kedua. Rupanya tahun pembuatan dan orang yang membuat atau menulis surat itu berlainan. Surat yang kedua ditulis pada tahun 50 Syaka (128 Masehi). Yang menulisnya adalah Ariya Saka Sepadi, Bukan Seri Nuruddin.Surat yang ditulis oleh Ariya Saka Sepadi pada tahun 50 Syaka (128 Masehi) itu dituliskan pada “kain bambu” (bilah-bilah bambu) yang isinya sebagai berikut.“Pada tahun 50 Syaka (28 Masehi), Yang Mulia Seri Nuruddin meninggal dunia di Muara Lematang dan kami makamkan dia di sana dengan upacara yang selayaknya. Ditulis oleh Ariya Saka Sepadi”.Demikianlah di antara tanda-tanda yang mereka peroleh atau temukan bersama-sama dengan beberapa benda lain peninggalan Angkatan Bahtera Seri Nuruddin yang telah rusak binasa pada tahun 10 Syaka (88 Masehi) dan perihal kematian Seri Nuruddin sendiri pada tahun 50 Syaka (128 Masehi) di Muara Lematang, sebelah barat Bukit Seguntang.TeraYang Mulia Seri Mapuli Dewan Atung Bungsu yang mendarat di Bukit Seguntang pada tahun 101 Syaka (179 Masehi) itu segera mendirikan pondokan bagi angkatannya (rombongannya). Di situ, Yang Mulia menitahkan kepada Ariya Tabing, Nakhoda Bahtera “Penjalang” untuk menera (menimbang) semua sungai di sekitar Pulau Seguntang.Ariya Tabing bertanya kepada Atung Bungsu, “Sungai yang mana yang mesti ditera (ditimbang) “Maka dijawab oleh Yang Dipertuan Seri Mapuli Dewa Atung Bungsu, “Semua tera” (artinya, semua mesti ditimbang). Dari kata-kata jawaban Atung Bungsu “Semua tera” itulah asalnya nama pulau “Sumatera”. “Semua tera”, yang kemudian menjadi “Sumatera”, artinya semua timbang; maksudnya, semua sungai yang ada di sekitar Pulau Seguntang (Bukit Seguntang) mesti ditimbang karena dalam amanat Paduka Yang Mulia Ayahnda Baginda Seri Mapuli Dewa Atung Bungsu, “di mana sungai yang paling berat timbangannya (paling berat kadar airnya), di situ akan berdiri kerajaan yang paling besar di dunia dan akan termasyhur sampai ke mana-mana.Demi mengikuti amanat itu, berganti-ganti air sungai ditera (=ditimbang) oleh Ariya Tabing atas titah Baginda Yang Mulia Seri Mapuli Dewa Atung Bungsu. Maka kedapatanlah sungai di Dataran Tinggi Tanah Besemah yang paling berat timbangannya. Sungai itu dinamakan “Sungai Bersama” karena didapat atau ditemukan bersama oleh Baginda Yang Mulia Seri Mapuli Dewa Atung Bungsu, Ariya Tabing, dan angkatannya. Sungai itu sekarang dikenal dengan nama “Ayik Besemah” (Air Besemah) atau sungai Besemah yang mengalir dari timur Bukit Raje Mendara (Raja Mahendra), melintasi dusun Sarangdale (Karanganyar), Dusun Tebatgunung, dusun Nanding, dan bermuara di Air Lematang atau Sungai Lematang dekat dusun Mingkik dan Dusun Benuwakeling, Kota Pagaralam.Di sekitar Air Besemah bermuara ke Air Lematang itulah Baginda Yang Mulia Seri Mapuli Dewa Atung Bungsu membuat dusun-dusun dengan sebutan “Sumbay Paku Jagat Seriwijaya”, semacam “Pasak Bhumi Majapahit”, dalam kerajaan Majapahit Raya. Maka ditanamkanlah batu-tugu (menhir) sebagai peringatan, yaitu “Batu Lancang Putih”, yang dibawa dari puncak Gunung Himalaya. Batu-tugu itu berwarna putih di bagian atasnya dan berwarna merah di bagian bawahnya. Sampai sekarang Batu Lancang Putih itu masih terdapat di dekat Makam Ratu Seri Wijaya, di dekat dusun Benuwakeling,

Kota    Pagaralam.(Sripo3.03)
Diposting oleh Besemah di 12:48 AM

Pertanyaan Hati

16 Maret 2009

By, Aditya Khenzo UAD Yogyakarta


Jika cinta ibarat samudra, luaskanlah pengaruhnya….

Jika cinta laksana angin, hembuskanlah kenyamanannya…

Jika cinta sekeras batu karang, ukirlah biar jadi indah dan tak menakutkan.

Jika cinta seperti perahu, kembanglah bahteranya hingga sampai tujuan…

Tak perlu sampaikan cinta bila tak ada jikanya…

Cinta bukanlah sebuah permainan…

Tapi cinta merupakan sebuah keinginan…

Ada banyak cinta yang ternoda, hanya karena permainan cinta

Ada banyak hati yang luka, hanya karena kesalahan cinta…

Dulu pujangga…. banyak mengatakan cinta ibarat embun dikala pagi..

Tapi kenapa…..? sekarang embun-embun itu hilang dikala pagi?

Akankah cinta hilang di telan masa perubahan…Abad 21 ini…?

Ataukah.. aku harus masuk dalam lorong waktu…

Agar aku dapat merasakan masa-masa keemasan cinta…

Atau…? Cinta hanya cerita fiktif belaka…. ?

Atau..? cinta hanya milik romie dan yulie saja…?

Oh….tuhan tuntunlah aku, dalam mencari apa yang ku cari…

Jelaskan padaku makna cinta yang sesungguhnya….

Inilah pertanyaan hati yang selalu menghantui…

Duhai para pujangga…..yang masih ada…

Terangkan padaku apa makna dibalik semua ini…?

Sebuah Harapan Indah..

20 maret 2009

By, Aditya Khenzo UAD Yogyakarta

Haji Rhoma mengatakan gunung tinggi akan kudaki

Lautan luas kan di seberangi…

Namun aku… aku tak lah mampu…dengan semua itu..

Tatkala kudaki gunung yang tinggi, akupun takut cintaku begitu tinggi…

Tatkala ada lautan yang luas, akupun takut cintaku meluas…

Karena apa…..

Karena aku takut saat cintaku begitu tinggi padamu…

Aku… terjatuh… dan patah….lagi..

Karenanya aku takut disaat cinta ini meluaskan kasihnya..

Dan aku tenggelam bersama….cintaku itu kembali.

Aku tau cinta itu…tinggi, setinggi gunung….

Aku merasa cinta itu luas…, seluas lautan….

Namun… apakan daya…

Aku sudah terlanjur takut akan semuanya…

Jadi…biarlah…

Biarlah…waktu memberi penjelasannya…

Biarlah… tuhan yang menuntun kita semuanya…

Hingga kita semua berada di ujung cinta yang tak berujung…

Cinta yang tak berujung.. duka dan laranya.., namun…

Namun berakhir dengan bahagia bersama…..

surat untuk sahabat

To…Nur

Assalammualaikum

Palembang……

Suatu pagi kala tiba dari berpergian, datang seorang sahabat yang membawakan kertas berbentuk persegi empat panjang…

Setelah ku buka ada sedikit kata-kata didalamnya, namun sangatlah bermakna…

Ada sebuah poto kecil tersenyum menatap, menawarkan  persahabatan…

Aku tersenyum seraya berucap “terima kasih tuhan telah tambahkan aku satu sahabat lagi”.

Ok..! kita bersahabat karena arti persahabatan serta empat tiang penyangga yang sangat bermakna nur tuliskan…tuk diri ini….

Aku berdo’a semoga keempat tiang itu dapat bertahan, menahan masa…

Masa lalu, dan masa yang akan datang, yang tak rentan oleh waktu dan jarak yang panjang menghadang…

Wahai dara palembang…. Ku ucap terima kasih telah datang, walau hanya serupa poto namun akan selalu dapat aku kenang…

Sahabat ibarat suatu janji yang dibuat dalam hati, tak dapat ditulis, tak dapat dibaca.

Namun tak akan terpisah oleh jarak, tak akan pula terubah oleh waktu…

Seperti halnya cinta, arti sahabat juga adanya di jiwa…

Tak semua bunga menandakan cinta, tapi mawar bisa…!

Tak semua tanaman bisa berdiri tegak, apabila kehabisan air. Namun kaktus bisa…!

Tak semua orang yang terpisah oleh jarak jadi sahabat, tapi nur bisa…!

Burung Irian tu… Cendrawasih, Sekian dulu.. terima kasih…!

Yogyakarta, maret 2009

Aditya