khenzo April 2010

Gunung dan Lautan

Gunung menjulang tinggi, penuh dengan pertanyaan

Dia umpama diriku…

Dia diam penuh akan misteri, seakan menakutkan…

Padahal…

Padahal dia penuh dengan keindahan…

Hanya saja… hanya saja kau tak mengerti itu…

Kau tak pernah menggapai ketinggiannya …

Bila kau gapai, kau kan terpesona keelokannya…

Dia disekelilingi lembah dan ngarai, mempesonakan mata…

Desiran angin yang menembus hatimu….

Memberi kesejukan dijiwamu…. Dan memberi hembusan pada rambutmu..

Seakan dia membelai penuh kasih sayang , seolah tak akan melepasmu..

Namun bila….

Kau tak suka gunung dengan ketinggiannya…

Mari.. mari ku perlihatkan lautan…

Kau tahu…. Apa arti lautan…

Lautan itu bukti betapa luas dan dalamnya pengertian…

Dengan ketenangannya, dia mengusap bibir pantai

Dia tak ingin pantai itu kering….

Apalagi pantai itu larut dalam kesepian…

Untuk itu dia akan selau ada sebagai teman dalam kesepian…

Gunung dan lautan bukti keagungan tuhan…

Tuhan ciptakan keindahan itu berpasang-pasangan

Seperti halnya tuhan menciptakan diriku dengan dirimu…

Untuk berpasangan…. (Aditya Khenzo)

***

Lebih baik menyintai, ketimbang dicintai…

Bila menyintai… tentu siap bila kau sakiti…

Sedangkan bila dicintai, ku takut kau yang tersakiti…

(Aditya Khenzo)

***

Kekasih…
Laksana cermin dalam resonansi jiwa
Yang menggetarkan relung hati hingga keraga
Dan menghantarkan kehangatan bara
dari bekunya hati sang kelana

kekasih…
kesetiaan agung pada dera kerinduan
laksana pantai menanti ombak dalam pelukan
yang teredam pada dalamnya kebisuan

kekasih…
seperti bunga yang menjaga tingginya kuncup
pucuk-pucuk kasihku tak jua meredup
mencumbui lautan sukma yang kuyup
dalam serenade desiran angin sayup

kekasih…
karang-karang kesabaran yang tumbuh di lubuk kalbu
meleburkan kebimbangan sang peragu
saat luka kuburkan semua hasrat rindu
dari kelamnya cerita masa lalu

kekasih…
butiran hujan yang jatuh selayak mutiara
terbungkus rapi dalam kado asa
untuk kau buka jika saatnya tiba
andai mampu kusibak jendela masa

kekasih…
sanjung puji dalam serambi janji
terucap lugas pada paras sejati
demi ikrar atas cinta suci
rekatkan lah dua hati kita dalam satu patri

***

bulan dalam penantian

Tatkala bulan telah berlalu…

Remang dan gelap menyelimuti hidupku…

Tatkala asmara kita berakhir…

Risau dan sedih hatiku kehilangan dirimu…

Tatkala kurasa hatiku masih terlukis namamu

Sayang dan cinta kurasa tak berjodoh….

Sesungguhnya takdir memang penentu segala

Bahagia kita rasa hanya sedetik masanya…

Kabut-kabut pagi pudarkan bayanganmu dari pandangan mata

Mungkin saat mentari bersinar disini kita kan besua lagi…

Walau entah kapan masanya…

Aku pun tak dapat janji jika selamanya kan menanti..

Jangan pernah menunggu apalagi berharap…mentari kan muncul lagi.

Penat atas asa ku kepadamu…

Ku telah merasa kau jauh dari harapanku…

Tiada guna manisnya kata aku merayumu…

Kalau tanpa jawab darimu…

Dalam baitan terakhir ini ku sematkan…

Kan ku sematkan sebuah kata “ku tak berharap lagi”

Ku kan pergi selamanya, tanpa menolehmu lagi

(Aditya Khenzo)

***

pesan-pesan cinta

Dang sekelihpun teucap selamat tinggal, aman masih endak menjalaninya, dang gancang menyerah man masih ngerasa sanggup, dang gancang teucap adak agi cinta ngan iya, aman kangau masih lum sanggup ngelupakon iya…

Mungkin gawoh tuhan inginkon  kita betungga serta  memadu cinta ngan jelma sida salah, sebelum betungga dengan jelma sida tepat, jadi ihlason lah hani sebagai rintangan cintamu engkan jadi pelajaran dalam hidupmu…

Mimang menyakitkon mencintai jelma sa adak menyintaimu, alangke lebih sakik lagi aman kita menyintai jelma tapi kita dak berani nyawakon cinta ke iya.

Sewaktu kangau endak menyintai atau ngambik hati dara belagak, ibaratkon gawoh kita endak ngambik bunga mawar, kita lah tahu betapa herumnya bunga mawar, tapi kita harus ingok. sebelum kita nyium herumnya jari tangan kita pasti kena duri… hatu cobaannya.


Cintailah dara to atas dasar sapa iya kini dan endang atas dasar iya sebelumnya. Kisahnya sa empai hani endang agi diungkit, aman benor kangau menyintainya setulus hati…

Cintaku adalah keabadian … dan kenanganku adalah memori terindah yang pernah ku simpan.

Sapa gawoh pacak ngehayati cinta, tapi demik pak sikuk sida pacak ngenilai cinta, sebab cinta ayin matematika, cinta to kah pacak kita rasakon ngelalui hati ngan perasaan…

Sebenornya cinta to kah nagankon jelma sa kita cintai jadi dirinya diwik tanpa harus kita rubah untuk jadi nawak mana sa kita kendakkon, jadi endang dipakso ia untuk jadi pantulan gambar dan sifat kita sehingga sifat alami sa ngemik di iya kita lebonkon, ayin cinta namanya… hatu pemaksoan

Cinta ayinkah kata-kata murah dan lumrah sa galak dicawakon enjak bibir ke bibir, tapi cinta hatu anugerah tuhan sa berpilosofi suci bagi kita sa pacak ngenilai kesuciannya..

Kecewa bercinta lum pacak kita retion dunia lah berakhir. Masa depan yang cerah hatu berdasarkan pada masa lalu sida  lah dilupakan. Kamu adak pacak  ngelangkah dengan helau dalam kehidupanmu sampai kamu ngelupakan kegagalanmu dan rasa kekecewaan itu.

Cintailah dara  sa mu  kasihi kiniari sekedarnya gawoh, sebab  mungkin gawoh iya jadi jelma  sida  mu benci disuatu saat kelak. Ngan  bencilah  jelma sida mu benci to sekedarnya muneh, sebab mungkin gawoh kelak suatu saat  iya jadi jelma sa mu cintai..

Memberikan seluruh cintamu kepada seseorang ayin jaminan bahwa dia akan membalas cintamu, endang  ngeharapkan balasan cinta, tunggulah sampai cinta berkembang dihatinya, tetapi jika dikda, berbahagialah karena cinta tumbuh dihatimu.

Cinta pertama hatu  kenangan, Cinta kedua hatu  pelajaran, dan cinta yang seterusnya adalah suatu keperluan karena hidup tanpa cinta laksana masakan tanpa garam. Karena itu jagalah cinta yang dianugerahkan itu sebaik-baiknya agar ia terus mekar dan wangi sepanjang masa…

Endang sampai jadi luralu dan pungguk sida selalu ngerindukon bulan tapi adak sadar ngan kenyataan………… cukuplah aditya sang penatazaman

Love Messenger from aji natazaman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: